
berantasonline.com (Sukabumi)
Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukabumi mulai mematangkan rancangan program prioritas infrastruktur Tahun Anggaran 2026 dengan pendekatan yang lebih terukur dan berbasis kebutuhan riil di lapangan. Langkah ini ditempuh setelah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan kegiatan 2025, khususnya penanganan kerusakan akibat banjir dan longsor.
Evaluasi tersebut dibahas dalam rapat internal pada 25 Desember 2025 yang dipimpin langsung Kepala DPU Kabupaten Sukabumi, Uus Pirdaus. Dalam forum itu, jajaran teknis melakukan sinkronisasi antara rencana kerja fisik dan kondisi aktual di lapangan, terutama pada wilayah-wilayah terdampak bencana sepanjang tahun lalu.
Berbeda dari pola perencanaan sebelumnya, tahun ini DPU menitikberatkan pemetaan kerusakan berdasarkan tingkat risiko dan urgensi pelayanan publik. Sejumlah ruas jalan penghubung antarwilayah tercatat mengalami kerusakan signifikan, begitu pula sistem drainase yang berperan penting dalam mengendalikan genangan dan limpasan air.
“Kami tidak hanya menghitung tingkat kerusakan fisik, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap mobilitas warga dan aktivitas ekonomi. Dengan keterbatasan anggaran, skala prioritas menjadi kunci agar program 2026 benar-benar tepat sasaran,” ujar Uus, Jum’at (20/02/2026).
Menurutnya, penentuan prioritas dilakukan melalui analisis komprehensif mencakup tingkat kerusakan, jumlah warga terdampak, fungsi strategis infrastruktur, hingga potensi risiko berulang jika tidak segera ditangani. Pendekatan ini diharapkan mampu memastikan efektivitas penggunaan anggaran daerah.
Selain rehabilitasi jalan dan pembenahan drainase, program 2026 juga diarahkan pada penguatan struktur infrastruktur agar lebih adaptif terhadap ancaman bencana hidrometeorologi. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun ketahanan wilayah, bukan sekadar penanganan sementara.
DPU optimistis, melalui perencanaan berbasis evaluasi dan data lapangan, pemulihan konektivitas antarwilayah di Kabupaten Sukabumi dapat dilakukan secara bertahap. Di sisi lain, kualitas infrastruktur dasar diharapkan semakin tangguh menghadapi dinamika cuaca ekstrem di masa mendatang.
(Ris)