berantasonline.com (Sukabumi)
Kondisi jalan rusak parah di Desa Bantarsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, memicu kekecewaan mendalam warga setempat. Kekesalan itu bahkan melahirkan sebutan tak biasa untuk salah satu ruas jalan yang hingga kini belum tersentuh perbaikan, yakni “Tanjakan Bagong.”
Nama bernuansa umpatan tersebut disematkan warga sebagai bentuk kritik sosial atas rusaknya tanjakan di ruas Citampian–Sukajaya yang kerap membahayakan pengguna jalan. Jalan tersebut dikenal sulit dilalui, terutama saat hujan turun, karena permukaannya berubah menjadi licin dan berlumpur.
Ibay Anggara, warga Desa Bantarsari, mengungkapkan bahwa penamaan itu muncul secara spontan akibat luapan emosi warga yang sering mengalami kecelakaan saat melintas.
“Motor sering selip, jatuh, bahkan mobil juga banyak yang tidak kuat nanjak. Saking kesalnya, kata ‘bagong’ sering keluar. Lama-lama ya disebut saja Tanjakan Bagong,” ujar Ibay, Jum’at (02/01/2026).
Tanjakan yang berada di Kampung Geleduk, Dusun Ciduria, tersebut merupakan akses vital penghubung antara Desa Bantarsari dan Desa Sukajaya. Panjangnya sekitar 150 meter dengan kontur cukup curam, sehingga kondisi jalan yang rusak sangat berisiko bagi keselamatan pengguna.
Menurut Ibay, jalan tersebut sudah lama tidak mendapatkan perbaikan yang memadai. Meski pernah dilakukan pengerasan belasan tahun silam, kondisinya kini kembali rusak dan terus memburuk.
“Kalau hujan, licinnya luar biasa. Banyak warga jatuh. Jalan ini sudah puluhan tahun seperti itu,” katanya.
Karena khawatir terus menimbulkan korban, warga akhirnya memilih bergotong royong melakukan pengerasan secara swadaya dengan material seadanya. Namun upaya tersebut dinilai hanya bersifat sementara.
Warga pun berharap Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) segera turun tangan melakukan perbaikan menyeluruh agar ruas jalan tersebut kembali layak dilalui serta tidak lagi membahayakan keselamatan masyarakat.
(Ris)



