Bogor, BERANTAS –
Pemerintah Kota Bogor melalui Bagian Hukum dan HAM Setda mengusung program “Sapulidi” (Saat Publik Liat Disini), “Bale Badami” (Penyelesaian masalah dengan mufakat) dan “BRC” (Bogor Regulation Club) sebagai kontribusi merayakan serangkaian Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 pada tanggal 3 Juni 2026 yang nanti puncak helaran pada tanggal 28 Juni 2026 mendatang.
Tema HJB tahun 2026 ini “Bogor Nanjeur” diartikan sebagai momentum memperkuat arah pembangunan berbasis hukum dan literasi warga.
“Nanjeur artinya kokoh, tegak, berdaya. Kalau Pemkot ingin Bogor Nanjeur, fondasinya harus hukum yang dipahami warga. Dan melalui program Sapulidi, menyapu pelanggaran, meluruskan regulasi,” ujar Kepala Bagian Hukum dan HAM, Alma Wiranta, rabu (3/6/2026)
Rangkaian program sapulidi untuk HJB ke-544 meliputi klinik regulasi keliling di wilayah, diskusi ketertiban berdasarkan aturan di BRC dan “Bale Badami” yang direncanakan sampai peringatan puncak HJB ke 544.
Alma menegaskan, Bogor yang kokoh bukan hanya fisiknya. “Bangunan boleh megah, tapi kalau warga tidak paham Perda dan Perwali sebagai Produk Hukum Daerah, maka Kota Bogor rapuh. Bogor Nanjeur dimulai dari warga melek hukum menjadi penjaga maruah dengan langsung melihat regulasi di JDIH Kota Bogor,” tegasnya.
Kabag Hukum dan HAM, Alma Wiranta sebagai arsitek regulasi daerah Kota Bogor dan penggagas Restoratif justice di Kota Bogor berharap lewat program sapulidi, BRC dan Bale Badami dalam rangkaian HJB ke-544 tidak berhenti di seremoni. Tapi jadi simpul kekuatan, regulasi daerah terus dievaluasi, warga dilibatkan, dan arah pembangunan Kota Bogor lebih tertib serta berkepastian hukum.
“Kita bekerja dan berkarya saat ini untuk masa depan Kota Bogor yang dinikmati generasi mendatang.” Tutup Alma Wiranta yang terpantau awak media sering menjalankan tugas hingga larut malam di Balaikota.
(Abah tataros)



