dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-1024x575.jpg" alt="" class="wp-image-3732" srcset="https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-1024x575.jpg 1024w, https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-300x169.jpg 300w, https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-768x431.jpg 768w, https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-1536x863.jpg 1536w, https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-2048x1150.jpg 2048w, https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-748x420.jpg 748w, https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-1495x840.jpg 1495w, https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-150x84.jpg 150w, https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-600x337.jpg 600w, https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-696x391.jpg 696w, https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-1392x782.jpg 1392w, https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-1068x600.jpg 1068w, https://berantasonline.com/wp-content/uploads/2026/02/rdp-dprd-sukabumi-csr-star-energy-salak-2026-1-1920x1078.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" />

berantasonline.com (Sukabumi)

Program tanggung jawab sosial perusahaan (TJSPKBL/CSR) Star Energy Geothermal Salak Ltd. menjadi sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi. Rapat berlangsung dinamis, namun belum menghasilkan keputusan konkret terkait perbaikan tata kelola program. Rapat digelar di ruang sidang DPRD, Kamis (19/02/2026).

Jajah Nurdiansyah Tampung Aspirasi Ekonomi Desa dalam Reses di Warungkiara

RDP dipimpin Ketua Komisi IV, Ferry Supriyadi, dengan agenda mengevaluasi realisasi CSR periode 2019–2025 serta dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat di wilayah lingkar Gunung Salak, khususnya Kecamatan Kabandungan dan Kalapanunggal.

Forum dihadiri anggota dewan, perwakilan SKPD, Bappeda, serta Lembaga Kajian dan Advokasi Grass bersama Katalis. Pembahasan diawali pemaparan policy brief oleh Hari Saputra dari Grass. Dalam kajian tersebut disebutkan, dari 146 kegiatan yang dianalisis, sekitar 72,6 persen masih didominasi pendekatan Community Relations (Comrel) yang bersifat karitatif dan seremonial. Sementara hanya 27,4 persen berbentuk Community Development (Comdev) yang dinilai lebih produktif dan transformatif.

Grass menilai terdapat korelasi antara belum optimalnya implementasi TJSPKBL dengan masih rendahnya tingkat kesejahteraan warga. Data yang dipaparkan menunjukkan lebih dari 80 persen warga di Kabandungan dan Kalapanunggal masih tergolong prasejahtera berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Kasus kemiskinan ekstrem di Desa Cianaga disebut sebagai indikator bahwa program CSR belum menyentuh kelompok paling rentan secara sistematis.

Selain itu, Grass mempertanyakan validitas social mapping perusahaan dalam menentukan penerima manfaat dan meminta konsultan penyusun kajian tersebut dihadirkan secara terbuka. Dalam forum juga muncul dugaan bahwa program Comdev lebih banyak menjangkau kelompok yang telah mapan secara finansial, termasuk BUMDes penerima bonus produksi, sementara bantuan untuk kelompok tani dinilai belum merata.

Menanggapi kritik tersebut, pihak perusahaan melalui perwakilan PGPA/Humas menyampaikan bahwa program Comdev membutuhkan anggaran besar sehingga tidak dapat direalisasikan secara luas setiap tahun. Perusahaan juga meminta Grass menunjukkan praktik CSR ideal sebagai pembanding, namun permintaan itu ditolak dengan alasan Grass merupakan lembaga kajian berbasis data, bukan pelaksana program.

Situasi rapat memanas ketika Ketua Komisi IV menyatakan bahwa persoalan TJSPKBL secara teknis berada dalam lingkup Komisi II dan akan dialihkan untuk pembahasan lanjutan. Pernyataan tersebut menuai tanggapan dari Grass yang menilai isu kesejahteraan masyarakat semestinya dibahas lintas komisi karena menyangkut domain sosial.