BERANTASONLINE.COM - Suasana tenang di sejumlah fasilitas pemasyarakatan di wilayah Nusa Tenggara Timur mendadak berubah saat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang kawasan Flores.
Peristiwa alam tersebut memberikan getaran yang cukup kuat hingga memicu langkah cepat dari petugas rutan dan lapas setempat untuk mengamankan situasi.
Peristiwa gempa bumi berskala besar ini langsung direspons oleh jajaran pemasyarakatan guna memastikan keselamatan seluruh warga binaan.
Dikutip dari TIMESINDONESIA.MY.ID, tercatat ada empat unit pelaksana teknis (UPT) pemasyarakatan yang berada di sekitar kawasan terdampak guncangan.
Keempat fasilitas penahanan yang merasakan dampak gempa tersebut meliputi Lapas Kelas IIB Ende, Rutan Bajawa, Rutan Maumere, serta Rutan Ruteng. Petugas jaga segera melakukan penyisiran menyeluruh sesaat setelah getaran mereda guna memeriksa ketahanan fisik bangunan.
Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa sebagian besar fasilitas lembaga pemasyarakatan masih mampu bertahan dan berfungsi secara optimal pascagempa. Kendati demikian, langkah penanganan khusus tetap harus diambil untuk salah satu rutan yang mengalami kendala teknis akibat guncangan.
"Berdasarkan pemantauan terhadap empat unit pelaksana teknis yang ada, tiga di antaranya berada dalam kondisi aman, terkecuali Rutan Ruteng," tutur Decky Nurmansyah.
Kondisi bangunan Rutan Ruteng yang terdampak secara signifikan menuntut adanya tindakan pencegahan agar keselamatan para penghuni tetap terjamin. Otoritas pemasyarakatan memutuskan untuk tidak mengambil risiko terkait kelayakan infrastruktur yang berpotensi membahayakan warga binaan.
Sebagai bentuk mitigasi darurat, ratusan narapidana dari Rutan Ruteng kemudian dijadwalkan untuk dievakuasi ke Rutan Bajawa. Proses pemindahan ini dipersiapkan secara matang dengan tetap mengedepankan standar operasional prosedur pengamanan yang ketat.




