Jakarta, BERANTAS –
Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tak lagi hanya terasa di daratan, melainkan telah meluas hingga ke luar angkasa dan melintasi batas negara.
Kepulan asap tebal terlihat menutupi sebagian besar Pulau Kalimantan dan bahkan membentang hingga ke wilayah Malaysia.
Fenomena ini terekam jelas dalam citra satelit Aqua milik National Aeronautics and Space Administration (NASA) yang diambil pada 1 September 2026. NASA Earth Observatory kemudian merilis citra tersebut pada 3 September, menampilkan lapisan asap berwarna abu-abu yang membentang di atas wilayah Indonesia hingga Malaysia.
Dalam citra tersebut, titik-titik merah mengindikasikan adanya anomali termal yang terdeteksi oleh instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer). Titik-titik ini menjadi penanda aktivitas kebakaran. Namun, NASA mengingatkan bahwa jumlah titik merah tidak selalu mencerminkan jumlah kebakaran sebenarnya, karena satu titik kebakaran dapat menghasilkan lebih dari satu deteksi akibat sistem yang membaca piksel dengan anomali panas.
Asap Lintas Batas Negara
Dampak karhutla di Kalimantan mulai dirasakan oleh negara tetangga. Kualitas udara di Sarawak, Malaysia, dilaporkan memburuk tajam. Pada 4 September, indeks polusi udara di wilayah Serian bahkan mencapai angka 521, yang diklasifikasikan sebagai kategori sangat berbahaya oleh otoritas setempat.
Situasi ini menegaskan bahwa karhutla di Kalimantan telah berkembang menjadi isu yang melampaui batas lokal. Ketika asap terbawa angin melintasi perbatasan negara, dampaknya ikut dirasakan oleh masyarakat di wilayah lain.
Lahan Gambut Jadi Ancaman Serius






