BERANTASONLINE.COM - Bencana alam dahsyat berupa banjir bandang telah menerjang wilayah perbatasan antara Nepal dan China, meninggalkan jejak kehancuran yang signifikan. Peristiwa tragis ini telah merenggut nyawa sedikitnya 1.225 orang, sementara ribuan lainnya masih belum ditemukan.
Peristiwa ini terjadi sepekan lalu, namun dampak dan pencarian korban masih terus berlangsung. Angka korban jiwa yang terus bertambah menunjukkan skala keparahan bencana yang melanda kedua negara tersebut.
"Sebanyak 4.757 orang lainnya masih dinyatakan hilang sepekan setelah bencana terjadi," demikian informasi yang dihimpun dari berbagai sumber terkini. Situasi ini menimbulkan keprihatinan mendalam bagi keluarga yang kehilangan sanak saudara.
Otoritas bencana di Nepal secara resmi melaporkan angka korban tewas di wilayah mereka. Tercatat, setidaknya 1.204 orang dilaporkan meninggal dunia akibat terjangan banjir di berbagai daerah di Nepal.
"Sementara itu, 4.216 orang masih belum ditemukan," demikian disampaikan oleh pihak berwenang Nepal, menggarisbawahi skala tragedi yang masih terus berkembang. Upaya pencarian dan evakuasi menjadi prioritas utama saat ini.
Dikutip dari AFP, informasi mengenai jumlah korban jiwa dan hilang ini dirilis pada Kamis, 3 September 2026. Tanggal ini menjadi penanda kapan data terbaru tersebut dipublikasikan kepada publik.
Peristiwa banjir bandang ini merupakan akibat dari curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah tersebut. Kondisi geografis perbukitan dan pegunungan di perbatasan Nepal dan Tibet memperparah dampak luapan air.
Penyebab utama terjadinya banjir bandang ini adalah intensitas hujan yang sangat tinggi dalam periode waktu yang singkat. Hal ini menyebabkan sungai-sungai meluap dan menghanyutkan apa saja yang dilewatinya.
Banjir bandang ini terjadi di wilayah perbatasan antara Nepal dan Tibet (China). Lokasi geografis yang berdekatan ini membuat dampak bencana meluas dan melibatkan dua negara.






