BERANTASONLINE.COM - Pada awal September 2026, langit di tiga negara anggota ASEAN diselimuti selubung kelabu yang tidak diinginkan. Kabut asap pekat yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia, telah melintasi batas negara, membawa serta dampak yang signifikan bagi Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina.
Kejadian ini bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan sebuah krisis lingkungan lintas batas yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. Kualitas udara di wilayah terdampak dilaporkan menurun drastis, memicu kekhawatiran akan kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Di Filipina, Badan Manajemen Lingkungan mencatat indeks kualitas udara di Metro Manila mencapai tingkat yang sangat tidak sehat. Asap kiriman dari titik api yang berjarak ribuan kilometer di Kalimantan ini memaksa otoritas setempat mengeluarkan imbauan agar warga membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker dengan perlindungan tinggi.
Luas area yang terdampak karhutla di Indonesia periode Januari hingga Juni 2026 menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Data dari platform pemetaan Mapbiomas Fire mencatat 178.232 hektare terbakar, sebuah area yang setara dengan tiga kali luas Singapura. Sementara itu, Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Kehutanan menyebutkan angka 107.465,47 hektare pada periode yang sama.
Ancaman sebaran polutan dari kebakaran ini telah dianalisis oleh para ahli. Fisikawan atmosfer dari Universitas Filipina, Gerry Bagtasa, menjelaskan bahwa kabut asap tersebut berbahaya karena terdiri dari partikel-partikel halus yang terbawa oleh angin barat daya.
"Kabut asap itu berbahaya karena terdiri dari partikel-partikel kecil yang dibawa oleh angin barat daya," papar Gerry Bagtasa.
Menyikapi situasi yang semakin memburuk, Malaysia dan Brunei Darussalam sepakat untuk membawa persoalan polusi asap lintas batas ini ke forum regional. Keduanya akan menggunakan mekanisme ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution sebagai wadah penyelesaian masalah.
Kesepakatan ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, usai pertemuan konsultasi dengan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah di Bandar Seri Begawan. "Kami berdua sepakat untuk menggunakan mekanisme ASEAN sebagai pilihan terbaik. Kami telah meminta Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan untuk menangani masalah ini," ujar Anwar Ibrahim.
Di Sarawak, Malaysia, dampak asap tebal membuat aktivitas belajar mengajar tatap muka di ratusan sekolah terpaksa dihentikan. Warga setempat, Muhammad Fazli Bendaud, merasakan langsung memburuknya kualitas udara setiap hari.






