BERANTASONLINE.COM - Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung selama tujuh bulan terakhir, menciptakan lanskap geopolitik yang semakin kompleks.

Kini, mayoritas anggota parlemen Amerika Serikat menilai bahwa upaya yang dijalankan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump dalam menghadapi konflik ini terbilang sebagai sebuah kegagalan total.

Konflik ini secara resmi pecah pada 28 Februari, dengan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke wilayah Iran.

Serangan terpadu tersebut berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang merupakan pukulan signifikan bagi kepemimpinan negara tersebut.

Namun, tujuan utama dari serangan gabungan tersebut, yakni membuat Iran tunduk terhadap keinginan Amerika Serikat dan Israel, belum juga tercapai hingga saat ini.

Situasi semakin memanas ketika Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran internasional yang vital bagi pasokan minyak dunia.

Penutupan ini sontak mengguncang stabilitas pasokan minyak global, memicu kekhawatiran akan krisis energi yang lebih luas dan dampaknya terhadap perekonomian internasional.

Sejumlah upaya negosiasi telah dilancarkan oleh berbagai pihak untuk meredakan ketegangan dan mencari solusi damai.

Akan tetapi, hingga berita ini diturunkan, seluruh rangkaian negosiasi tersebut belum berhasil menemukan titik temu atau kesepakatan yang memuaskan semua pihak yang terlibat.