Bogor, BERANTAS –

Implementasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) perpanjangan SMP Kota Bogor Tahun 2026 terus menuai polemik.

Setelah banyak orang tua mengeluhkan tidak ditampilkannya nilai tes praktik dan rincian penilaian jalur prestasi, kini muncul dugaan adanya permainan oknum dalam proses seleksi.

Dugaan tersebut semakin menguat setelah ditemukannya indikasi perubahan data jarak domisili calon peserta didik yang dinilai tidak konsisten di dalam sistem.

Sejumlah orang tua calon peserta didik menilai pelaksanaan SPMB tahun ini jauh lebih tertutup dibandingkan dua tahun sebelumnya saat Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor dijabat Drs. Irwan Riyanto, M.Si.

Jika pada pelaksanaan PPDB saat itu, peserta masih dapat mengetahui rincian nilai dari setiap komponen penilaian, kini sistem hanya menampilkan status diterima atau tidak diterima tanpa menampilkan nilai sertifikat prestasi, hasil tes praktik, maupun Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Seluruh proses penilaian dan pemeringkatan dilakukan melalui sistem yang tidak dapat diakses maupun milik sekolah ataupun peserta. Akibatnya pengawasan publik terhadap proses seleksi menjadi sangat terbatas.

"Kalau memang sistemnya tujuan dan bersih, kenapa nilai setiap komponen tidak dibuka? Kami hanya ingin mengetahui di mana letak kekurangan anak kami. Jangan sampai sistem yang tertutup justru memunculkan dugaan adanya sesuatu yang disembunyikan," ujar salah seorang orang tua murid yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Berdasarkan penelusuran di lapangan, pihak sekolah ternyata juga tidak memiliki akses untuk melihat hasil akhir penilaian yang diproses sistem. Hal tersebut diungkapkan Kepala SMPN 4 Kota Bogor, Yayuk Arnawati, S.Pd., M.Pd., saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (9/7/2026)