BERANTASONLINE.COM - Kepolisian Daerah Kalimantan Timur mencatat lonjakan signifikan titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Total 1.703 titik api terdeteksi, berdampak pada luas lahan mencapai 963,5 hektare.
Fenomena El Nino yang menguat menjadi penyebab utama meningkatnya kejadian karhutla di berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Kondisi udara yang semakin kering memperparah potensi kebakaran.
Karo Ops Polda Kaltim Kombes Dedi Suryadi mengungkapkan data ini berdasarkan pemantauan hingga 21 Agustus 2026. Wilayah Kabupaten Berau tercatat sebagai daerah dengan luasan lahan terbakar paling besar.
"Berdasarkan pemantauan hingga 21 Agustus 2026, sejumlah wilayah masih menjadi perhatian utama. Kabupaten Berau tercatat sebagai wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar," ujar Kombes Dedi Suryadi.
Selain Berau, beberapa kabupaten lain yang juga menjadi fokus perhatian terkait karhutla meliputi Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, dan Paser. Meskipun demikian, situasi dilaporkan masih terkendali dalam status siaga.
Analisis citra dari aplikasi Lembuswana Hotspot menunjukkan ribuan titik panas tersebar di wilayah Kaltim. Pihak kepolisian mengklarifikasi bahwa mayoritas titik api berasal dari aktivitas industri, khususnya tambang batubara dan gas suar.
"Pihak kepolisian mengklarifikasi bahwa mayoritas titik api tersebut bersumber dari kegiatan industri batubara dan gas suar, sementara titik api murni kebakaran hutan dan perkebunan berjumlah lebih sedikit," demikian informasi yang dihimpun.
Upaya penegakan hukum juga telah dilakukan oleh Polda Kaltim selama tahun 2026. Salah satu kasus tegas melibatkan penetapan tersangka atas pembakaran lahan seluas 12 hektare di Pulau Derawan, Kabupaten Berau.
Jumlah kasus karhutla dilaporkan meningkat drastis pada bulan Agustus, bertepatan dengan puncak musim kemarau. Tercatat 273 kejadian dengan luasan 752,82 hektare lahan yang terbakar sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026.






