Prediksi yang tertuang dalam catatan resmi pada Jumat (21/8/2026) ini didasarkan pada dua faktor utama. Pertama, lonjakan signifikan dalam permintaan opsi bullish yang menunjukkan optimisme investor terhadap kenaikan harga emas.
Kedua, Goldman Sachs menyoroti aksi beli emas yang konsisten dan terus-menerus dilakukan oleh berbagai bank sentral di seluruh dunia. Aktivitas ini secara langsung berkontribusi pada penguatan permintaan fisik emas di pasar global.
Penguatan harga komoditas emas ini juga dipicu oleh tingginya permintaan dari investor Barat. Mereka secara aktif mencari instrumen lindung nilai terhadap potensi risiko dalam pasar makroekonomi global yang dinamis.
Dikutip dari Investor Daily, aktivitas lindung nilai yang dilakukan oleh para dealer pada level strike opsi tertentu memiliki potensi untuk memperbesar momentum pergerakan harga emas secara mekanis. Hal ini menciptakan efek domino yang memperkuat tren harga.
"Permintaan call option emas telah meningkat tajam seiring kembali menguatnya kebutuhan terhadap lindung nilai kebijakan makro global, sehingga menciptakan penguat mekanis terhadap pergerakan harga, baik ke atas maupun ke bawah," ujar Goldman Sachs.
Mekanisme pasar opsi ini bekerja ketika harga emas mendekati titik tertentu. Para dealer yang menjual opsi beli kemudian terdorong untuk melakukan pembelian emas fisik guna membatasi risiko eksposur mereka.






