Jakarta, BERANTAS -

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi sejumlah wilayah di Indonesia, dengan Kalimantan menjadi sorotan utama.

Fenomena El Niño yang menguat diperparah dengan kondisi kemarau panjang, membuat lahan, termasuk kawasan gambut, rentan terbakar dan sulit dipadamkan.

Data yang dihimpun menunjukkan skala kebakaran yang mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan Agence France-Presse (AFP) per 18 Agustus 2026, lebih dari 100 ribu hektare lahan telah terbakar di Indonesia sepanjang semester pertama 2026, merujuk pada data Kementerian Kehutanan.

Sementara itu, analisis pemantauan deforestasi Nusantara Atlas memperkirakan luas area terdampak kebakaran telah melampaui 285 ribu hektare hingga Juli 2026.


Pemerintah telah menetapkan enam provinsi sebagai fokus utama pengendalian karhutla: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Di Kalimantan Barat, kabut asap pekat bahkan mulai mengganggu aktivitas masyarakat, mendorong Pemerintah Provinsi setempat untuk mengimbau warga menghentikan aktivitas pembakaran lahan selama periode El Niño.

Situasi serupa juga dirasakan di Kalimantan Tengah, di mana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur telah mengingatkan potensi kemarau ekstrem yang meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.

Upaya Pemadaman dan Modifikasi Cuaca

Untuk menekan laju karhutla, pemerintah memperkuat penanganan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau penyemaian awan.