Jakarta,BERANTAS –

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini juga melanda sejumlah wilayah di Papua, menambah daftar provinsi yang terdampak serius. Di tengah perhatian terhadap karhutla di Sumatera dan Kalimantan, kebakaran di Papua Barat dan Papua Tengah dilaporkan telah menghanguskan ribuan hektare lahan, dengan sebagian titik api masih menghadapi kendala pemadaman.

Di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Dinas Kehutanan mencatat luas karhutla mencapai sekitar 2.171,35 hektare hingga 31 Juli 2026. Data ini bersumber dari aplikasi Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kepala Dinas Kehutanan Papua Barat, Jimmy Walter Susanto, menyatakan bahwa Fakfak menjadi wilayah dengan luas karhutla terbesar dibandingkan kabupaten lain di provinsi tersebut.

Selain Fakfak, SiPongi+ juga mencatat karhutla di Teluk Bintuni seluas 223,51 hektare, Manokwari Selatan 34,35 hektare, Pegunungan Arfak 33,61 hektare, dan Manokwari 33,54 hektare.

Jika digabungkan, total karhutla di wilayah Papua Barat sepanjang tahun 2026 telah mencapai 2.496,39 hektare. Data ini mencakup kejadian dari Januari, April, Juni, dan Juli, dengan luasan terbesar terjadi pada bulan Juli.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 396,13 hektare lahan terbakar dalam periode 18 Juli hingga 23 Agustus 2026.

Karhutla di Nabire tersebar di tujuh distrik, yaitu Teluk Kimi, Nabire Kota, Nabire Barat, Wanggar, Nabire, Makimi, dan Yaur. Sebanyak empat kepala keluarga tercatat terdampak langsung dan telah mendapatkan pendampingan dari petugas gabungan melalui BPBD Kabupaten Nabire.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menduga kebakaran ini dipicu oleh kombinasi cuaca panas, angin kencang, serta kondisi semak dan ilalang yang kering.