BERANTASONLINE.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan bahwa sebagian wilayah Jawa Barat akan mengalami hujan dengan intensitas ringan pada Kamis, 27 Agustus 2026. Prediksi ini muncul di tengah periode puncak musim kemarau yang tengah melanda sebagian besar wilayah Indonesia.
"Dinamika atmosfer terkini menunjukkan beberapa wilayah seperti Bandung masuk dalam daftar daerah yang diprediksi mengalami hujan berskala ringan," demikian disampaikan Prakirawan BMKG Selly dalam rilis cuaca yang diterbitkan.
Secara umum, suhu udara di Jawa Barat pada tanggal tersebut diprakirakan berada dalam rentang 22 hingga 32 derajat Celsius. Namun, faktor kelembapan dan pergerakan angin dapat membuat suhu terasa sedikit berbeda, terutama di daerah pegunungan dan dataran tinggi.
Tekanan udara di wilayah Jawa Barat terpantau stabil, berada di kisaran 101400 hingga 101500 hPa. Angin diperkirakan bertiup konsisten dari arah utara menuju timur laut dengan tingkat tutupan awan yang bervariasi sepanjang hari.
Meskipun sebagian besar Pulau Jawa diprediksi cerah berawan, wilayah Bandung dan beberapa area lain di Jawa Barat tetap memiliki peluang untuk diguyur hujan ringan. Fenomena ini menjawab keingintahuan masyarakat mengenai potensi hujan di Bandung di tengah musim kering.
BMKG menjelaskan bahwa hujan lokal tersebut dapat terjadi akibat adanya sublimasi awan konvektif, khususnya di daerah yang memiliki kondisi topografi bergelombang atau pegunungan. Kondisi ini memungkinkan terjadinya hujan dalam skala terbatas di beberapa lokasi.
Kondisi cuaca di Jawa Barat merupakan bagian dari gambaran iklim nasional yang dipantau BMKG untuk periode 25 hingga 31 Agustus 2026. Data menunjukkan bahwa sekitar 79,9 persen wilayah Indonesia atau 559 Zona Observasi Meteorologi (ZOM) telah memasuki fase kemarau meluas pada dasarian II Agustus 2026.
"Kondisi kemarau panjang tahun ini secara umum dipengaruhi oleh fenomena El Niño kategori sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif," terang BMKG, menjelaskan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kemarau panjang dan peningkatan risiko kebakaran hutan serta lahan.
Kombinasi fenomena iklim global tersebut berdampak pada penurunan intensitas curah hujan secara drastis dan peningkatan suhu permukaan di banyak wilayah Indonesia. Hal ini seringkali memicu pertanyaan publik mengenai pengaruh El Niño terhadap cuaca nasional.






