Muaro Jambi, BERANTAS -
Memasuki musim kemarau, Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah merampungkan pemetaan wilayah rawan kekeringan guna mengantisipasi potensi ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Sebanyak 45 desa di wilayah dinilai memiliki potensi terdampak jika curah hujan terus menurun dalam jangka waktu panjang.
Dalam pemetaan yang telah disusun, wilayah rawan kekeringan tersebar di sembilan kecamatan, yaitu Kecamatan Mestong, Bahar Selatan, Bahar Utara, Kumpeh Ulu, Sungai Gelam, Kumpeh, Taman Rajo, Maro Sebo, dan Jambi Luar Kota (Jaluko).
Sementara itu, Kecamatan Sungai Bahar dan Sekernan untuk saat ini belum masuk dalam daftar wilayah yang dipetakan sebagai daerah rawan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Muaro Jambi, Anari Hasiholan Sitorus, menegaskan bahwa penetapan desa dalam daftar tersebut bukan berarti wilayah tersebut saat ini sudah mengalami kekeringan. Pemetaan disusun berdasarkan analisis potensi kerawanan yang dapat muncul seiring berjalannya musim kemarau.
"Penetapan ini merupakan pemetaan wilayah yang berpotensi rawan kekeringan saat musim kemarau, bukan berarti saat ini sudah terjadi krisis air. Langkah ini diambil agar kita bisa merespons lebih cepat dan tepat sasaran apabila kondisi di lapangan mulai berdampak pada kebutuhan air bersih masyarakat," ungkap Anari, Sabtu (1 Agustus 2026).
Sebagai langkah mitigasi, BPBD telah menyiapkan sejumlah armada mobil tangki yang sewaktu-waktu dapat diturunkan untuk mendistribusikan air bersih ke wilayah yang membutuhkan. Penyaluran air tidak dilakukan secara otomatis, melainkan harus didahului dengan permohonan resmi dari pemerintah desa setempat yang telah mendeteksi adanya kesulitan akses air bersih bagi warganya.
Pemetaan dan kesiapan sarana ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk meminimalkan dampak buruk musim kemarau, serta memastikan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat tetap terjaga dengan baik.


