Bogor, BERANTAS -
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Pemerintah Kota Bogor menjalin kesepakatan untuk mengembangkan kawasan Stasiun Bogor menjadi pusat transportasi terpadu.
Rencana ambisius ini mencakup revitalisasi stasiun, penataan kawasan sekitar, hingga integrasi dengan berbagai moda transportasi.
Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara KAI dan Pemkot Bogor pada Senin (7/9).
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa pengembangan kawasan Stasiun Bogor akan berlandaskan pada tiga konsep utama: konektivitas, identitas, dan spasialitas.
Dari sisi konektivitas, Stasiun Bogor akan dirancang terhubung langsung dengan Stasiun Bogor Paledang. Hal ini bertujuan untuk memudahkan perpindahan penumpang antar kedua stasiun.
Selain itu, kawasan ini diarahkan menjadi simpul transportasi antarmoda yang terintegrasi dengan Trans Pakuan, Biskita, angkutan daring, hingga rencana Light Rail Transit (LRT) atau trem perkotaan.
Peningkatan aktivitas Stasiun Bogor, yang kini melayani sekitar 130 ribu penumpang KRL per hari, menjadi latar belakang pentingnya rencana pengembangan ini.
Konsep identitas sejarah juga menjadi fokus utama. Revitalisasi tidak hanya menyasar fungsi transportasi, tetapi juga berupaya mempertahankan dan memperkuat karakter historis Stasiun Bogor yang telah berdiri sejak tahun 1881.







