Bandung, BERANTASÂ -
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa fenomena suara dentuman yang menggemparkan wilayah Bandung Raya dan sekitarnya pada Sabtu (5/9) dini hari bukan berasal dari aktivitas gempa bumi maupun fenomena cuaca lokal.
Hasil evaluasi menyeluruh terhadap data pemantauan kegempaan, aktivitas petir, kondisi cuaca, hingga magnet bumi tidak menunjukkan adanya korelasi.
Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi, menjelaskan bahwa BMKG merespons cepat laporan masyarakat mengenai suara dentuman berulang yang terdengar antara pukul 00.30 hingga 05.00 WIB.
"Hasil analisis data pemantauan kegempaan BMKG menunjukkan tidak ada aktivitas seismik di wilayah Bandung dan sekitarnya pada rentang waktu tersebut. Potensi gempa bumi sebagai pemicu suara dentuman dapat dipastikan nihil," ujar Suaidi dalam konferensi pers, Sabtu (5/9).
Selain parameter kegempaan, BMKG juga memeriksa kondisi atmosfer serta aktivitas kelistrikan udara di Jawa Barat.
Pemantauan Lightning Detector mencatat aktivitas petir di Bandung Raya berada pada intensitas rendah dan tidak signifikan.
Kondisi cuaca secara umum terpantau cerah dengan pergerakan angin bertiup konsisten dari arah Timur ke Barat, mengindikasikan tidak adanya fenomena cuaca ekstrem lokal yang dapat memicu suara dentuman.
Meskipun aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) terdeteksi melalui citra satelit dan peningkatan aktivitas petir di sekitarnya, BMKG menilai kecil kemungkinan suara tersebut merambat hingga Bandung. Arah angin yang bertiup dari Timur ke Barat pada saat kejadian memperkecil peluang perambatan gelombang suara erupsi ke arah Bandung Raya.






