BERANTASONLINE.COM - Stasiun Karet yang sebelumnya melayani penumpang KRL kini tidak lagi beroperasi. Keputusan ini berdampak langsung pada mobilitas para pengguna kereta rel listrik di wilayah tersebut.
Perubahan ini memaksa sebagian besar pengguna KRL untuk mencari alternatif akses menuju stasiun terdekat yang masih aktif. Akibatnya, jarak tempuh untuk mencapai tujuan menjadi lebih jauh dari biasanya.
Salah satu dampak yang paling dirasakan adalah keharusan berjalan kaki lebih jauh menuju Stasiun BNI City. Hal ini menimbulkan keluhan dari berbagai kalangan pengguna jasa transportasi publik ini.
Verry, seorang pengguna KRL, mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya akibat penutupan Stasiun Karet. Ia merasa perlu menempuh perjalanan yang lebih panjang dari sebelumnya. "Tambah jauh, repot pas bawa barang banyak," ujar Verry.Â
Situasi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang atau individu yang sering membawa barang dalam jumlah besar saat menggunakan transportasi kereta.
Perubahan ini terjadi di sekitar area Karet, sebagaimana yang diamati pada hari Selasa, 1 September 2026.
Penutupan stasiun ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas dan rencana jangka panjang pengelolaan transportasi publik di area tersebut. Evaluasi dampak operasional menjadi krusial.
Penutupan Stasiun Karet menimbulkan konsekuensi nyata bagi kenyamanan dan efisiensi perjalanan para pengguna setia KRL.
Kondisi ini menyoroti pentingnya perencanaan infrastruktur transportasi yang matang untuk meminimalkan disrupsi dan memastikan kelancaran mobilitas warga.






