Jakarta, BERANTAS –

Melemahnya kondisi ekonomi masyarakat dan keuangan nasional berpotensi besar berdampak langsung pada ketahanan pertahanan negara.

Prediksi ini datang dari para ahli pertahanan dan ekonomi dunia, yang merujuk pada sejarah negara-negara yang porak-poranda akibat perang saudara, perebutan kekuasaan melalui propaganda politik, dan pergantian pemimpin nasional yang dipicu isu ekonomi.

Indonesia sendiri pernah merasakan dampaknya pada krisis moneter tahun 1998.

Pengamat di Indonesia menekankan bahwa stabilitas ekonomi merupakan fondasi utama dalam penguatan pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), peningkatan kesejahteraan prajurit, hingga pembinaan industri pertahanan dalam negeri.

Jika daya beli masyarakat menurun dan penerimaan negara melemah, alokasi anggaran untuk sektor pertahanan pun berisiko terdampak.

"Pertahanan negara tidak bisa berdiri sendiri. Ketika ekonomi kuat, kita memiliki ruang fiskal yang memadai untuk modernisasi alat pertahanan, melakukan riset, serta menjaga ketahanan pangan dan energi," ujar Alma Wiranta, yang melakukan penelitian terkait model kerangka kebijakan digitalisasi mata uang rupiah untuk memperkuat keamanan nasional.


Pemerintah diharapkan menjaga sinergi antara kebijakan ekonomi, fiskal, dan pertahanan demi menjaga stabilitas nasional. Penguatan ekonomi kerakyatan, kemandirian industri strategis, dan efisiensi anggaran dinilai menjadi kunci agar pertahanan negara tidak melemah di tengah tekanan global.

"Dengan ekonomi masyarakat yang tangguh, negara juga akan tetap stabil, dan ketahanan pertahanan pun akan semakin solid dalam menghadapi berbagai tantangan serta ancaman," tutup Alma Wiranta kepada awak media, Rabu (2/9). 

Follow berantasonline.com
Follow on Google