BERANTASONLINE.COM - Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, warga Islandia mulai memberikan hak suara dalam sebuah referendum penting yang akan menentukan arah hubungan negara tersebut dengan Uni Eropa.
Pemungutan suara ini melibatkan sekitar 273.000 pemilih yang terdaftar, menandai momen krusial bagi masa depan integrasi Eropa di negara kepulauan tersebut.
Negosiasi aksesi Islandia dengan Uni Eropa sebelumnya telah ditangguhkan pada tahun 2013. Keputusan untuk melanjutkan kembali negosiasi ini dipicu oleh krisis keuangan yang melanda negara tersebut pada tahun 2009, namun kini kembali menjadi sorotan publik dengan hasil survei yang menunjukkan persaingan ketat.
Hasil survei terbaru dari Gallup menunjukkan bahwa kubu penolak integrasi Eropa sedikit unggul dengan perolehan 51,6 persen suara.
Sementara itu, kubu pendukung keanggotaan Uni Eropa meraih 48,4 persen, mencerminkan perpecahan pandangan yang signifikan di kalangan masyarakat Islandia.
Menteri Luar Negeri Islandia, Thorgerdur Katrin Gunnarsdottir, menyampaikan optimismenya terkait proses yang sedang berlangsung.
"Persaingannya cukup ketat, namun saya selalu optimistis," ujar Thorgerdur Katrin Gunnarsdottir, Menteri Luar Negeri Islandia. "Segalanya belum berakhir sampai benar-benar usai."
Salah satu isu domestik yang paling hangat diperdebatkan dalam referendum ini adalah kedaulatan sektor perikanan Islandia.
Namun, dinamika geopolitik global, termasuk perubahan kepemimpinan di Amerika Serikat dan konflik yang terjadi di Eropa, turut memengaruhi pandangan masyarakat mengenai jaminan keamanan nasional.






